JURNAL MAGANG || TUGAS 5 : Mengikuti Course "Belajar Linux Dari Nol"
Di era teknologi seperti sekarang, mengenal sistem operasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Pada jurnal kali ini, aku ingin membagikan pengalamanku mempelajari Linux dari nol. Perjalanan ini terasa seperti petualangan baru—penuh rasa penasaran, tantangan, dan tentu saja pelajaran berharga.
Langkah pertamaku dimulai dengan memahami apa sebenarnya Linux itu. Awalnya aku mengira Linux hanyalah sistem operasi biasa seperti Windows. Namun ternyata, Linux adalah sebuah kernel, yaitu inti sistem yang berfungsi sebagai penghubung antara perangkat keras dan perangkat lunak.
Linux pertama kali dikembangkan oleh Linus Torvalds pada tahun 1991, dan hingga kini telah melahirkan banyak varian yang dikenal sebagai distro, seperti Ubuntu, Debian, dan CentOS. Yang membuatku semakin takjub, Linux ternyata digunakan di mana-mana: mulai dari Android di smartphone, server web di internet, hingga superkomputer tercepat di dunia. Dari sini aku sadar, Linux punya peran besar dalam dunia teknologi modern.
Setelah memahami teori dasar, mentor course ku membuat mesin Linux virtual menggunakan VirtualBox. memulai dengan menyiapkan file ISO Ubuntu Server 22.04, lalu mengatur spesifikasi mesin virtual agar berjalan optimal.
Beberapa pengaturan penting yang kupelajari antara lain penggunaan 2 core prosesor, RAM 2–4 GB, dan penyimpanan sekitar 25–30 GB. Proses instalasi memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran, mulai dari pengaturan pengguna hingga menunggu sistem terpasang sempurna. Namun semua terbayar ketika Ubuntu Server berhasil berjalan dengan lancar.
Berbeda dengan Windows yang mengandalkan tampilan grafis, Linux Server mengharuskanku berinteraksi melalui Command Line Interface (CLI). Awalnya terasa asing, tetapi perlahan aku mulai terbiasa.
Aku belajar beberapa perintah dasar yang sangat penting, seperti menggunakan sudo su untuk masuk sebagai root, whoami untuk mengetahui pengguna aktif, dan date untuk melihat waktu sistem. Selain itu, aku juga mempelajari cara mengecek kondisi sistem, seperti kapasitas RAM menggunakan free -mh dan ruang penyimpanan dengan df -h. Terminal yang awalnya terlihat rumit, kini justru terasa praktis dan efisien.
Pada tahap ini, aku mulai memahami struktur direktori di Linux yang berpusat pada satu akar utama bernama root (/). Aku belajar membuat file menggunakan touch, mengedit isinya dengan nano atau vim, serta menyalin dan memindahkan file menggunakan cp dan mv.
Tak hanya itu, aku juga mempelajari cara menghapus direktori dengan rmdir dan perintah yang lebih kuat seperti rm -rf. Dari sini aku menyadari bahwa Linux memberikan kendali penuh kepada penggunanya—semua bisa dilakukan hanya melalui perintah di terminal.
Perjalanan belajarku dari materi video 1 hingga 4 membuka pandanganku bahwa Linux bukan hanya soal perintah dan sistem, tetapi tentang efisiensi, kontrol, dan pemahaman mendalam terhadap komputer. Meski masih di tahap awal, aku merasa semakin percaya diri untuk melangkah ke materi Linux berikutnya yang tentu akan lebih menantang.
Petualangan ini belum berakhir. Justru, ini baru permulaan 🚀
Aku siap melanjutkan perjalanan belajar Linux ke level selanjutnya.
PT Radnet Digital Indonesia
PT
Radnet Digital Indonesia adalah perusahaan yang bergerak pada bidang
layanan solusi digital. Memberikan solusi digital untuk pengembangan
bisnis atau kebutuhan pribadi anda.
📡 Butuh internet cepat dan stabil?
📞 Hubungi RADNET sekarang juga!
🌐 Website: www.radnet-digital.id
📧 Email: sales@radnet-digital.id
☎️ WhatsApp (chat only): 08155044434
RADNET – Solusi Internet Andal untuk Bisnis Anda
Komentar
Posting Komentar